Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
Menjadi guru adalah salah satu anugerah yang terindah bagi saya, Allah Yang Maha Kuasa memberi kesempatan diri saya untuk belajar dan berkarya. bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Asa ke depan tetap berkarya dan berkarya walau usia semakin senja. Mudah-mudahan Allah meridhoi.Amin

Slide

20/04/11

Jumiati

Posted by Saptari Dharma Wijayanti on 16.56 0 komentar



Jumiati
“Aduh payah banget! Bocah koh oon banget!” kata bu Eni sambil berjalan menuju singgasananya. Saat ini kata oon sedang ngetop untuk mengganti kata bodoh.
Ada apa bu, nampaknya kok marah sekali?” sambut bu Adi.
“Itu Jumiati.” jawabnya singkat saja.
“Ooo, kalau dia mah luar biasa.” sahut Bu Irma santai.
“Kandidat ora lulus kyeh!” Pak Heri menimpali dengan bahasa yang campur aduk, untuk menyatakan bahwa Jumiat adalah calon kuat tidak lulus..
Aku diam saja mendengar keluhan mereka tentang Jumiati, akhirnya toh merembet ke yang lain, tentang anak-anak yang lambat mengerti, tidak seperi harapan semua guru. Aku tersenyum dalam hati, memang mudah menyalahkan dan bersungut-sungut. Tapi langkah apa yang sudah mereka lakukan? hanya mengajar dan mengajar saja, kejar materi, ulangan, marah, jarang sekali kudengar mereka mengatakan “Bagaimana caranya ya…..”
Aku adalah wali kelas dari Jumiati yang mereka bicarakan. Aku sudah paham kondisi keluarganya, orang desa yang sangat sederhana namun baik perilakunya. Apapun keadaannya dia tetap anakku, itu anggapanku.
            Langkah apa ya yang harus kulakukan? Aku merenung, kasihan juga kalau tidak lulus, dia rajin, tidak pernah absen, datang juga pagi-pagi, diam, nrimo, lugu, dan sangat merasa kalau dirinya beda dengan teman-temannya. Aku malah bisa merasa dia memiliki kelebihan dari yang lain. Bayangkan! Selalu diolok-olok, ditertawakan, dijauhi, kalau diskusi ditolak mentah-mentah untuk bergabung dalam kelompok, dia tetap diam, tidak mengeluh, dan selalu berangkat sekolah. Wah! mental yang luar biasa sebenarnya. Selalu menerima apa yang dia alami. Bahkan di kelas dia duduk sendiri. Aku sudah berusaha memberikan binaan ke teman sekelas, bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan teman, harus saling asah, asih dan asuh. Akan tetapi namanya anak-anak hari ini iya, besok  sudah lupa.
            Saat istirahat, aku melangkah ke kelas III B, tempat Jumiati berada. Benar saja dia duduk sendiri, tanpa teman, dan mencoret- coret kertas yang ada di mejanya.
”Jum, tidak jajan?’ tanyaku sambil duduk di sampingnya.
”Tidak bu.” jawabnya lirih dan singkat.
”Nanti pulang sekolah menemui ibu ya?”
”Baik bu.” jawabnya masih tanpa ekspresi. Dia manut saja tidak bertanya ada perlu apa aku menyuruhnya menghadap.
            Ketika bel berbunyi tanda usai pelajaran, kudengar suara sorak hore dari salah satu kelas, tanda rasa girang bahwa pelajaran telah selesai. Girang. Mungkin karena lega pelajaran yang membebaninya segera berakhir dengan tanda bel tadi. Di kelasku juga berlangsung sama, karena pada akhir pelajaran kulakukan tanya jawab untuk mereview apa yang telah mereka pelajari, senang sekali si Didin dengar bel, karena dia tidak bisa menjawab pertanyaanku. Tapi wajah kecewa juga nampak dari wajah Indah, dia sudah siap-siap menjawab soal yang kuberikan pada Didin.
”Jawabnya apa In?” tanyaku di keriuhan suara anak-anak yang berkemas untuk pulang. Wajahnya sumringah, raut kecewa terhapus dari wajahnya.
”Barang komplementer bu.” jawabnya mantap
            ”Ya bagus, besok Kamis ibu beri pertanyaan  lagi ya?”
”Ya bu, jadi belajar ya bu...”  Kata Indah, aku tersenyum.
”Ya sudah anak-anak, silakan disiapkan!” pintaku kepada ketua kelas.
” Siaaaap grak, berdoa mulai!”
            Suara Ati lembut sekali membaca doa pulang. Artinya sangat berarti, sayang anak-anak belum sepenuhnya memahami arti doa yang dibacakan, padahal luar biasa maknanya.
”Beri salam!” suara ketua kelas yang menggelegar cukup mengagetkanku.
”Assallamualaikum warahmatullah wabarakatuh!” suara mereka terdengar sangatb bersemangat.
”Wa ‘laikum salam warahmatullahhi wabarakatuh.” jawabku keras, sambil berdiri di dekat pintu untuk bersalaman dengan anak-anak. Setiap pulang sekolah memang kubiasakan untuk bersalaman dengan anak-anak. Aku bisa mempelajari tingkah dan laku mereka, dengan bersalaman kadang kita bisa mengetahui keadaan anak-anak, tangan yang dingin keringatan, tangan yang panas karena sakit, dan tangan yang kadang kasar sekali untuk ukuran anak-anak. Kupikir dia di rumah pasti bekerja keras. Setelah semua anak sudah bersalaman sambil berjalan ke luar kelas,  kupanggil Imah yang tangannya sangat kasar tadi,
”Pulangnya naik apa Im?” tanyaku.
”Jalan bu. Dekat kok bu, tetangga bapak Narto.” jawabnya sopan.
”Oh di sana rumahmu, sambil mengingat. Rumah pak Narto memang dekat, tapi untuk ke sana memang naik turun jalannya, ’kalau diluruskan, ya jauh juga,’ batinku.
”Terus sampai rumah acaranya apa?” sambungku sambil terus berjalan bersama anak didikku ini.
”Bantu ibu masak nira bu.”
”Wah, banyak ya?”
”Lumayan bu.”
”Suka membuat cimplung juga?”
”Kadang-kadang bu, ibu suka? Besok saya bawakan ya?”
”Wah tidak usah, di rumah ibu sering diberi tetangga, terima kasih ya.”
”Mari bu.” kata Imah berbelok ke kiri, sementara aku berjalan lurus menuju ruang guru.
            Kulihat Jumiati sudah berdiri mepet dinding sebelah luar ruang kepala sekolah. Kumasukkan semua barang yang kuperlukan untuk mengajar besok ke dalam tasku. Karena aku guru baru mengajar pelajaran yang baru, jadi tiap hari aku harus belajar.
”Jum, sini Jum!” ajakku duduk di kursi panjang di teras ruang guru. ”Enak kan di sini, buru-buru tidak? Nanti dimarahi orang tua tidak kalau agak sedikit terlambat pulang?”
”Tidak bu. Paling kalau saya pulang, ayah belum pulang dari kebun, ibu saya juga.” jawabnya.
”Jum di rumah setiap hari kamu selalu belajar?”
”Ya bu, hanya membaca”
”Berapa kali agar kamu dapat memahami apa yang kamu baca?” pertanyaanku hanya dijawab sedikit senyum oleh Jumiati. ”Ditanya koq hanya senyum Jum, berapa kali?” ulangku. Jumiati hanya diam saja, mungkin bingung untuk menjawab pertanyaanku.
”Begini jum, ibu sebenarnya bangga dengan semangatmu untuk bersekolah, kamu ingin lulus kalau ujian nanti kan?”
”Ya bu.”
”Ibu juga ingin kamu lulus Jum, upaya apa yang sudah kamu lakukan agar lulus Jum?”
”Membaca bu.”
“Hanya membaca?”
”Ya bu, hanya membaca.”
“Punya buku lengkap Jum untuk dibaca?”
“Membaca catatan dan buku paket saja bu.”
”Ya syukurlah, membaca juga sudah lumayan.” kataku menyemangati. ”Jum ayah dan ibumu shalat?” kulontarkan pertanyaanku selanjutnya.
”Kadang-kadang bu.”
”Kalau kamu?”
”Kadang-kadang juga bu.” jawabnya polos.
”Kamu betul ingin lulus Jum?”
Nggih bu, tapi nggak mungkin ya bu? Saya kan bodoh?” jawab Jumiati lirih. Lumayan juga jawabannya, agak panjang dikit.
”Eh, tidak boleh seperti itu Jum, jangan patah semangat ya, dan jangan bicara yang jelek untuk dirimu, kalau malaikat di sampingmu mengamini kata-katamu bagaimana? Jadi bicara yang baik-baik saja ya, apalagi untuk dirimu sendiri. Di dunia ini yang berhak memutuskan nasib seseorang hanya Allah,  kewajibanmu hanya berusaha dan berusaha. Allah yang menentukan hasilnya. Paham Jum?” kataku kali ini cukup panjang juga, mudah-mudahan Jumiati mengerti apa yang kukatakan. ” Bagaimana, kamu yakin ingin lulus dan bisa lulus?”
”Insya Allah bu.”
”Nah, itu jawaban yang bagus! Mulai saat ini kamu belajar dan belajar ya, mohon doa restu kepada ayah dan ibumu,  mohon didoakan di setiap selesai sholat agar kamu lulus.”
”Ya bu, tapi saya tidak bisa berdoa bu?” kata Jumiati bingung.
”Kenapa tidak bisa? Maksudmu apa Jum,?” tanyaku heran.
”Bahasa arabnya.” jawabnya lesu.
”Pakai bahasa kita saja Jum, tapi harus selalu diawali dengan Basmallah ya. Contohnya begini, Ya Allah ampuni dosa dan salahku, bimbinglah aku dalam belajar, mudahkanlah urusanku, berilah aku lulus, ya Allah.... bisa Jum?”
”Ya bu, ayah dan ibu juga bu seperti itu?”
”Ya iya, hanya kata-kata aku diganti dengan anakku, karena yang ujian kan kamu Jum?”
”Ya bu!” jawabnya mulai semangat.
”Saat ujian nanti jangan lupa berdoa. Contohnya begini Jum, ya Allah, bimbinglah aku dalam mengerjakan soal, mudahkanlah urusanku, jadikanlah soal yang sukar menjadi mudah, jadikan soal yang mudah agar tidak salah, ya Allah.... begitu ya Jum?”
”Ya bu.”
”Besok ibu bawakan kumpulan soal dan jawabannya bekas ponakan ibu yang sekolah di kota, dia sudah lulus, siapa tahu soal-soal ujian ada yang sama dengan soal yang ada dalam buku itu.”
”Ya bu”
”Jadi mulai sekarang kamu rajin belajar. Untuk soal-soal seperti IPS, Biologi dan agama, kamu baca berulang-ulang, kalau sudah hafal tuliskan ke dalam bukumu. Akan tetapi kalau belajar matematika dan fisika kamu harus belajar dengan mencoba soal-soal, di buku kan ada soal dan jawabannya, nah! kamu coba berulang-ulang cara menjawab soal tersebut dan jangan lupa selalu berdoa, sudah mengerti Jum?”
”Ya bu.” ujarnya sambil mengangguk pelan.
”Ya sudah, kamu boleh pulang sekarang. Nanti di rumah langsung laksanakan saran ibu ya?”
”Ya bu, terima kasih ya bu. Tolong ibu juga mendoakan saya ya bu?”
”Ya Insya Allah Jum, ingat yang menentukan nasibmu hanya Allah ya Jum. Kamu harus berusaha dengan  keras,  jangan sampai meningalkan shalat, karena dengan shalat hati dan pikiranmu menjadi tenang, dengan shalat kamu bisa memasrahkan dirimu kepada Allah, mudah-mudahan Allah membuka hati dan pikiranmu, serta membimbingmu ya?” kataku sambil berdiri. Jumiati juga ikut berdiri sambil menyangklongkan tasnya yang bertali panjang, kemudian menyalamiku.
”Ya bu, terima kasih. Assalamu’alaikum bu.”
”Wa alaikum sallam warahmatullahi wa barakatuh, selamat berjuang ya?”
”Ya bu” jawabnya sambil tersenyum, dua buah gigi depannya yang besar pun nampak, karena bibir atasnya agak terangkat sedikit.. Kupandangi langkah Jumiati, langkah yang pelan, ekor kudanya sangat khas, diikat tepat dan menempel tengkuknya, hanya dia yang mengikat rambutnya seperti itu, selalu, dari kelas satu hingga kini.
            Dua bulan berlalu, siang ini kami menunggu pengumuman kelulusan dari kepala sekolah yang sedang mengambil kelulusan di Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas yang letaknya 15 km dari sekolahku. Begitu nampak wajah pak Sunaryo, teman-temanku menyambutnya dengan semangat.
”Bagaimana pak?” tanya temanku serempak.
”Ya lumayan, jawabnya lirih.”
”Wah kok lesu? Jangan-jangan banyak yang tidak lulus ya?” kata-kata bu Harti ikut menyentakkan hatiku. Aku langsung ingat Jumiati, luluskah dia?
”Paling Jumiati tidak lulus ya?” kata Bu Ani memvonis pengumuman yang belum dibacanya.
”Ya iya, paling dia nomor satu! Tapi tidak lulusnya lho?” timpal Pak Heri. Hatiku berdebar-debar juga mendengar kata-kata mereka, karena semua sudah yakin bahwa Jumiati tidak mungkin lulus.
”Ya jangan begitu bu, nasib orang kan kita tidak tahu?” akhirnya aku membuka mulut.
”Wah, walinya tidak terima nih bu Harti?” kata bu Sari kepada bu Harti.
”Tapi memang benar kok bu, kita tidak boleh memastikan sesuatu.” kata bu Harti.
”Ya sudah, kita lihat saja nanti.” kata bu Sari agak keras sedikit.
            Pak Naryo menyerahkan sampul berisi pengumuman kepada Pak Agus selaku kurikulum di sekolah kami. Kemudian kami rapat bersama di ruang kelas III A yang berada di sebelah atas ruang guru.Wajah pak Agus nampak cerah, ’Wah, berita baik nih!’ batinku. Setelah ada sambutan kepala sekolah, kemudian kami mengecek satu-satu nilai semua anak-anak, pak Agus berkata lirih di dekatku.
”Hanya satu yang tidak lulus.” kata pak Agus tenang.
” Jumiati ya?” tanya mereka serempak.
”Sebentar kita  cek bersama dulu.” kata pak Agus dengan sabar.
”yang tidak lulus anak kelas III C, anaknya pinter kok ya?” kata pak Heri  agak heran, setelah mengecek satu-satu.
”Siapa pak?” tanya mereka heran.
”Koq bukan Jumiati?” Sambung bu Harti.
Aku tidak menyahut keheranan teman-teman, tapi aku langsung bersyukur dan berdoa, ”Ya Allah terima kasih, Engkau telah meluluskan semua anak kelasku III B. Matur nuwun ya Allah, Engkau telah mengabulkan doaku.” kataku  sangat lirih. Aku tidak ingin teman-teman mendengarkan doaku.
            Aku melangkah pulang dengan ringan. Kubayangkan ekspresi wajah Jumiati setelah dia mendengar dia lulus, ’seperti apa ya ekspresinya?’ batinku penasaran.
            Benar saja saat kubagi pengumuman kepada anak-anakku, semua anak nampak girang sekali, sedangkan Jumiati hanya senyum-senyum seperti biasa. Ekspresinya biasa saja.
”Selamat ya anak-anak” kataku di antara mereka.
”Ya bu, terima kasih ya bu!” jawab mereka serempak. Kudengar kecil suara langkah kaki mendekatiku, aku menengok ke arah datangnya suara dan Jumiati telah berada di sampingku,
”Terima kasih ya bu.” kata Jumiati sambil menyalamiku.
”Ya Jum, mudah-mudahan bermanfaat yang Ijazahmu?” kataku sambil memegang tangannya dengan erat, dengan jabatan tanganku aku ingin Jumiati tahu bahwa hatiku sangat senang. Dan telah kubuktikan bahwa nasib seseorang benar-benar ditentukan oleh Allah SWT, walaupun sebagian besar guru sudah yakin bahwa Jumiati sudah tidak mungkin lulus. Dari kelulusan Jumiati ini aku juga berharap kepada teman-temanku bahwa sebagai guru kewajiban kita adalah memotivasi dan mendoakan seluruh nak-anak kita , baik yang cepat, maupun yang lambat pemahamannya dalam pembelajaran,  dan juga yakin bahwa seseorang sedikit banyak ada kebaikkan di samping kekurangan yang dimilikinya.
            Lega sekali rasanya, walau nilai Jumiati hanya pas-pasan saja, tidak apa-apa, yang lebih penting lagi kelulusan ini bagi Jumiati adalah dia selalu rajin shalat dan berdoa, mudah-mudahan dia yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik baik kita apabila kita berusaha, pasrah dan tawaqal keadaNya. Mudah-mudahan keyakinan ini bisa selalu digunakan dalam kehiduannya sehari-hari kelak. Amin Ya Rabbal Alamin.
             


0 Responses so far:

Leave a Reply