Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
Menjadi guru adalah salah satu anugerah yang terindah bagi saya, Allah Yang Maha Kuasa memberi kesempatan diri saya untuk belajar dan berkarya. bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Asa ke depan tetap berkarya dan berkarya walau usia semakin senja. Mudah-mudahan Allah meridhoi.Amin

Slide

04/02/11

BINGO

Posted by Saptari Dharma Wijayanti on 04.50 0 komentar

[wallcooBingo

Bel berbunyi nyaring, bel yang sudah kutunggu-tunggu karena aku akan masuk ke kelas 9 D untuk memberikan kuis spesial. Aku ingin tahu suasana apa yang akan terjadi dengan kuis bingo yang sudah kusiapkan.
“Selamat siang anak-anak!” sapaku sebelum anak-anak lebih dulu menyalamiku.
“Selamat siang bu!” jawab mereka serempak.
“Sudah belajar tadi malam?”
“Sudah bu, tapi sedikit.” jawab Rono.
“Belum bu” timpal Andri.
“Ya sudah, untuk mengingatkan kembali yang apa yang sudah kalian baca tadi malam sekarang  kalian baca 10 menit dari halaman 28 sampai dengan 30.”
“Ya bu!”
            Sambil menunggu mereka membaca aku berkeliling membagikan lembar kuis bingo yang sudah kusiapkan semalam.
“Untuk apa bu?” tanya Fitri.
“Ya untuk kuis” jawabku sambil jalan.
”Diapakan bu?” tanya Eni ketika menerima lembaran untuk kuis dariku.
”Anak-anak tolong kalian semua membaca dulu saja, seperti permintaan kalian tadi, nanti ibu jelaskan semua.” jelasku.
”Baik bu!”
            Kulirik jam di dinding. 10 menit telah berlalu, berarti sudah cukup kesempatan anak-anak untuk membaca buku. Maka segera kusiapkan ballpoint, permen dan materi untuk kuis.
”Bu permennya untuk saya ya bu?” tanya Hari.
”Ya boleh, asal kamu dapat menjawab semua pertanyaan ibu dengan benar.” jawabku. ”Anak-anak perhatikan! Kalian semua sudah mendapatkan lembar seperti ini?” tanyaku sambil kutunjukkan lembar kuis bingo kepada anak-anak.
”Sudah bu!”
”Berapa kotak yang ada di lembar kertasmu?”
”Satu, dua, tiga, empat, lima. Dua puluh lima bu!” jawab Indra lantang.
”Nah sekarang kamu isi kotak itu dengan angka nomor satu sampai dengan dua puluh lima secara acak!”
“Urut boleh bu?” celetuk seorang siswa.
“Boleh, tetapi sebaiknya jangan, nanti kalian akan tahu manfaatnya. Baik anak-anak, apakah sudah semua?”
[wallcoo“Sebentar bu, jangan terlalu cepat bu!” kata Titin protes. Aku tersenyum mendengar Titin protes, karena dia memang paling hobi protes kalau diberi tugas.
”Sudah bu!” kata Adi.
”Perhatikan aturan mainnya! Pertama, tujuan permainan kuis ini adalah untuk mengetes belajar kamu, untuk menguji kesportifitasanmu, dan juga kejujuranmu. Kedua, tolong tulis jawaban ketika ibu meminta kamu menulis, dan letakkan bollpointmu ketika ibu meminta kemu meletakkannya. Ketiga, apabila jawaban di kertas kalian betul semua ketika ditarik secara diagonal, horizontal, dan vertikal maka kalian berdiri bersorak HORE, ASIK, BINGO, YES atau kata lain yang kalian suka. Nanti ibu berikan hadiah bollpoint atau permen ini.”
”Asiiiiiiik” sahut Rudi gembira.
“Sudah paham aturan mainnya?”
“Sudaaaaah...”
”Ibu minta kalian cari nomer empat, sudah ketemu?”
“Sudah bu.”
”Pertukaran barang dengan barang disebut ...., tulis......, sudah.......? letakkan!” aku menarik nafas sebentar sambil memastikan anak-anak sudah meletakkan alat tulis mereka, ”Jawabannya apa anak-anak?”
”Barter bu!” anak-anak menjawab serempak.
”Ya benar!” sahutku.
”Asiiiiik” si Imam bersorak.
”Nomor dua!” kukeraskan suaraku, dan anak-anak langsung diam.“Perhatikan mata uang ini! Angka ini menjukkan nilai ...., tulis sekarang! .........Sudah? letakkan bollpointmu sekarang! Apa jawabannya Atin?”
”Nilai intrinsik bu.”
[wallcoo”Betul anak-anak?”
”Salah bu, nilai nominal yang betul!” jawab Intan tanpa kutanya.
”Ya benar”
”Yes” kudengar anak-anak senang ketika jawabnnya benar.
”Aduh jan! Aku salah.” timpal Hendro.
”Nah, tolong yang benar diberi tanda centang, dan yang salah diberi tanda silang!” perintahku.
”Ya buuuu!”
            Kubacakan soal satu demi satu. Kulihat anak-anak gembira sekali, bahkan kadang tidak sabar ketika aku belum membacakan soalnya. Ekspresi anak-anak yang salah jawabannya juga lucu. Kadang ada anak yang kurang jujur, tetapi teman sebangkunya selalu mengingatkannya. Tentu saja aku juga harus cermat dan teliti memperhatikan tangan anak-anak ketika ada jawaban yang benar kusebutkan, seperti baru saja ketika kusebutkan jawaban Nilai Tukar, Indah langsung melakukan gerakan menulis.
”Kamu baru menulis ya Indah?” tanyaku kepada gadis bertubuh kecil itu.
”Ya bu, Indah baru menulis jawaban yang benar bu.” sahut Ika yang duduk sebangku dengan Indah.
”Tolong disilang ya Indah, kita latihan jujur ya?” harapku kepada indah, dan indah mengangguk dengan senyum malu.
”Huuuuuuu, ” sahut teman-teman lainnya.
”Sudah, kita kan sedang belajar, jadi kalau keliru langsung ibu luruskan.” kataku menenangkan anak-anak
[wallcooSetelah berlangsung lima nomor, aku bertanya kepada anak-anak, ”Siapa yang sudah bingo?”
”Saya bu!” jawab Supriyanto tenang.
”Silahkan bollpoint ini untuk kamu Pri.” kataku sambil menyodorkan sebuah bollpoint berwarna hitam.
”Ya bu, terima kasih.” Supriyanto menerima bollpint dari tanganku dengan muka sumringah. Kuhitung sudah empat belas nomor yang kubacakan.
”Sekarang nomor 15” kataku lantang.
”Bu lah nomor 14 bu?” Titin protes lagi dan aku hanya tersenyum untuk membalas protesnya.
”Salah satu syarat uang adalah curability, artinya ...., silahkan ditulis...…. baik, letakan! Apa jawabnya Ani?”
“Tahan lama bu.” sahut Ani.
“Pintar!” pujiku.
“Yeeeeee, aku benaaar!” ucap Mukti lucu.
”Horeeee saya bingo lagi bu!” kembali Supriyanto berdiri untuk yang keempat kalinya
”Saya juga bu!” teriak Imam tak mau kalah.
”Saya juga bu.” Ujar Irma lirih.
”Silahkan yang bingo ke depan!” satu persatu anak-anak yang tadi bingo maju ke depan. Nah, ini untuk Imam, ini untuk Irma dan ini permennya untukmu Pri!” kataku sambil menyerahkan masing-masing sepuluh bungkus permen kepada Imam, Irma, dan Supriyanto.
[wallcoo”Ya bu, terima kasih” semua menjawab dengan riang gembira. Irma memasukkan semua permen ke dalam saku bajunya, sementara Imam memasukkan semua permen ke dalam saku celananya. Tetapi lain yang dilakukan Supriyanto, dia  kembali ke tempat duduk yang letaknya paling belakang sambil membagi permen satu-satu kepada teman yang dilewatinya. Hal sama yang dia lakukan saat bingo yang kedua. Hanya tadi dia lewat sebelah kiri, kemudian yang kedua dia lewat sebelah kanan, dan kini dia lewat jalan tengah untuk menuju tempat duduknya. Aku senang sekali dengan apa yang dilakukan oleh Supriyanto. Akhirnya dua puluh lima soal usai sudah kubacakan. Bollpoint serta  permen yang ada di mejaku sudah habis.
”Silahkan anak-anak kalian hitung jumlah jawaban yang benar, kalau sudah kumpukan sekarang! Ibu ingin lihat apakah jawabanmu banyak coretan atau tidak, sekaligus ibu masukkan ke daftar nilai.” kataku di tengah riuhnya suara anak-anak yang bergembira. ”Agus, tolong bantu ibu mengumpulkan jawaban teman-temanmu!”
”Siap bu!” jawab Agus sambil berdiri dan mulai mengumpulkan semua jawaban teman-temannya.
”Coba Endang, maju ke depan.”
”Saya bu?” tanyanya. Aku mengangguk pelan.
”Coba katakan pendapatmu tentang pelaksanaan kuis tadi.”
”Senang bu, dan kita harus jujur!” jawab Endang singkat.
”Besok lagi ya bu?”  teriak Indra.
[wallcoo”Kalau besok tidak, tapi kapan-kapan lagi bisa! Kamu bisa kembali ke tempat dudukmu Ndang, terima kasih ya sudah memberikan pendapatmu.” kataku kepada Endang.
”Ya bu.”
”Perhatian anak-anak! Siapa tadi yang berbagi rizky kepada temannya?”
”Supriyanto bu!!”
”Supriyanto, tolong maju ke sini!” pintaku kepada Supriyanto. Kemudian dia berjalan dan berdiri di samping kiriku. ”Karena tadi Supriyanto selalu memberikan permen yang diperolehnya kepada teman-temanya, maka ibu memberi tambahan hadiah kepada Supriyanto.” kataku kepada semua anak-anak sambil kuberikan satu lembar uang lima ribuan.
”Terima kasih banyak bu.” ujar Supriyanto.
 ”Silahkan kembali ke tempat Pri!” Supriyanto mengangguk lemah. ”Anak-anak, bila kalian sudah terjun di masyarakat dan memperoleh rizky yang banyak tolong jangan lupa berbagi kepada yang membutuhkan. Ibu ingin kalian seperti Supriyanto. Tadi ibu melihat Supriyanto berbagi, ibu senang sekali. Bila masyarakat Indonesia saat ini seperti Supriyanto, Insya Allah tidak ada anak-anak yang terlantar di jalanan, tidak ada pengemis yang meminta-minta di perempatan jalan, dan tidak ada pula banyak anak-anak yang putus sekolah karena alasan biaya, kalian paham?”
”Paham bu.” jawab anak-anak kompak. ”Mau melakukan seperti Supriyanto kelak?” tanyaku lagi.
”Ya bu!” mereka kembali menjawab dengan serempak.
”Kenapa Supriyanto sering bingo?”
[wallcoo”Jawabnnya selalu benar bu” jawab Imam.
”Ya, kenapa kamu tidak Imam?”
”Saya tidak belajar bu, saya hanya betul 11 tadi bu.” selorohnya polos.
”Menyesal tidak kamu?”
”Iya bu, besok saya akan rajin belajar bu.”
Aku tersenyum mendengar jawaban Imam, ”Janji ya Mam.” ujarku yang disambut anggukan mantap kepala Imam. Aku kembali memusatkan perhatianku kepada siswa-siswi 9 D, ”Jadi, apa kesimpulan yang dapat kalian ambil?”
”Setiap hari kita harus belajar bu.” celetuk Intan.
”Ya, tolong setiap hari kalian belajar. ”Mari kita lanjutkan pelajaran hari ini, waktu tatap muka kita masih satu jam pelajaran, coba kalian nanti berdiskusi dengan temanmu, dua meja yang saling berdekatan saja.” kataku sambil berkeliling membagi satu kartu diskusi dan lembar hasil diskusi  untuk dua meja yang berdekatan.
”Waktu kita satu jam anak-anak, jadi tolong diskusikan dengan benar, kalau bicara tolong kecilkan suaramu, supaya tidak mengganggu kelas tetangga.”
            Anak-anak mulai berdiskusi, dan aku mencoba mengamati keaktian siswa, kalau ada yang diam saja langsung kutegur dia agar mau bekerja sama dengan teman-temannya.
[wallcoo            Waktu berjalan dengan cepat dan bel tanda pulang sudah berbunyi. Hari ini melelahkan tapi aku merasa sangat senang. Walau hanya ada satu anak di antara 236 anak yang berhasil menjawab semua pertanyaan dengan benar, tapi paling tidak telah ada tunas yang kudapatkan dari hasil efek samping penggunaan kuis ’Bingo’ dalam pembelajaran yang tidak mungkin kudapatkan kalau aku hanya dengan ceramah saja dalam pembelajaran.


0 Responses so far:

Leave a Reply